

Asiksaja.com - Kultwit | Menanggapi pertanyaan tentang "Bagaimana nasib perppu?" dari para pengguna twitter pak Mahfud MD, mantan ketua MK dan menteri pertahanan di era Gus Dur ini memberikan beberapa ulasannya tentang nasib Perppu kedepan dan problem potensi kekosongan hukum. Dalam pandangannya nasib Perppu akan ditentukan oleh tinjauan politik pada tahun 2015 oleh DPR.
Uraian pak Mahfud juga menjelaskan konsekuensi ketika Perppu diterbitkan oleh Pemerintah terhadap UU Pilkada. Dengan diterbitkan Perppu maka kedudukan UU itu langsung batal. Perppu itu langsung membatalkan pilkada. UU Pilkada sudah dimatikan, tapi kalo ditolak DPR maka Perppu ikut mati (juga). Terjadikalah kekosongan hukum.
Pak Mahfud juga mengidentifikasi problem di pertengahan 2015 yang dihadapi pemerintahan Indonesia, jika terjadi kekosongan hukum. Pada pertenganah 2015 itu akan terjadi banyak pengangkatan Kepala Daerah. Jika terjadi kekosongan hukum maka negara harus bisa mengantisipasinya. Pak Mahfuds sendiri belum tahu solusi yang tepat jika itu terjadi, karena hal ini adalah kasus pertama kali di neger ini, sebagaimana diungkapkan di twit nomor 16. [lelank]
Berikut ulasan lengkap dalam serial nomor kuliah twitter (kultwit) 1-20:
KULTWIT PERPU . 1)- Nasib Perppu menunggu political/legislstive review di DPR awal 2025 --):- @kirana_dewa: prof nasib perpu gimana ya.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
2). Perppu adalah salah satu bentuk tindakan Presiden utk mengatur dlm keadaan terpaksa (darurat) dengan peraturan setingkat UU.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
3). Di dlm UUD 1945 ada 2 alasan tindakan Presiden yg bersifat darurat. 1) keadaan bahaya (Psl 12) ; 2) keadaan genting & memaksa (Psl 22).
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
4). Presiden hanya bisa menyatakan keadaan bahaya krn situasi yg diatur dlm UU; tapi Presiden bs membuat Perppu tanpa kriteria ttt dlm UU,
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
5). Perppu bs dikeluarkan berdasar hak subyektif Presiden utk menilai kegentingan situasi. Perppu hierarkinya setingkat dengan UU.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
6). Krn bersifat darurat dan hanya dibuat sendiri oleh Presiden maka (tdk spt UU) berlakunya Perppu dibatasi s-d masa sidang DPR berikutnya
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
7). Pd sidang DPR berikutnya itu Perppu diuji (politicap/legislative review), apakah disetujui jadi UU atau ditolak.Klo disetujui jd-lah UU.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
8). Perppu jg bs diuji ke Mahkamah Konstitusi. Awal 2014 MK prnah membatalkan Perppu ttg MK shg Perppu itu menjadi invalid sbl diuji DPR.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
9). Tp pd 2010 ada Perppu ttg (Pimp) KPK yg lolos MK namun kemudian ditolak oleh DPR. Saat itu tak timbulkan problem krn Pim KPK sdh terisi.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
10. Sbnrnya, meski alasan Perppu mrpkan hak subyektif Presiden tp MK sudah memberikan 3 rambu ttg syarat2 genting utk keluarkan Perppu.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
11). Rambu (1): Ada kekosongan hkm (tdk ada UU) ttg hal yg hrs sgera dslsaikan brdasar UU. Rambu (2): UU yg ada tdk bs dipakai utk hal tsb.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
12). Rambu (3): Waktunya sngat mndesak, tak mmungkinkan utk membuat UU yg normal krn keadaan benar2 genting. Itulah 3 rambu pmbuatan Perppu
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
13). Perppu Pilkada yg baru dikeluarkan memang bs jd masalah yg hrs diantisipasi sjk skrang. Klo Perppu ditolak akan ada kekosongan hukum.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
14) Perppu itu lgsng membatalkan UU Pilkada. UU Pilkada sdh dimatikan tp klo ditolak DPR maka Perppu ikut mati. Trjdilah kekosongan hkm itu.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
15)- Mslh-nya pertengahan 2015 hrs ada penggantian banyak kepala daerah. Memakai dasar hukum apa? Ini yang harus diantisipasi oleh negara.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
16) Bnyk yg nanya: bgm jln keluarnya. Jujur sy blm tahu. Baru prtama trjadi UU dicabut tp diganti dgn Perppu yg belm tentu disetujui DPR.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
17). Para ahli HTN pun blm ada yg mmberi jln keluar scr hukum klo hal itu terjadi. Jln keluar yg paling mungkin, DPR menyetujui Perppu tsb.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
18)- Ketiadaan hukum (rechtsvacuum) ttg Pilkada Ini bisa menjadi bom waktu. Perlu kearifan parpol2 utk menghindari kekisruhan2 baru.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
19)- Andai sj, Perppu itu tak mencabut UU Pilkada tp hanya menangguhkan berlakunya s-d pembahasan Perppu di DPR, masalahnya tentu lbh mudah.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
20) Tp problem yuridis (praktis maupun teoretis) sdh ada di depan kita. Mari berdiskusi utk mencari jln keluar sblm segalanya jd terlanjur.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
[NOTE TAMBAHAN]
Maaf, Kir. Maksud sy nunggu political/legislative review awal 2015, bukan 2025 -) :- @kirana_dewa: @mohmahfudmd prof nasib perpu gimana ya.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
Ada yg tanya: Klo Perppu ditolak kan UU Pilkada brlaku lg? Mnrt sy tdk, sebab saat mncabut UU Pilkada, Perpu itu sah dgn akibat2 hukumnya.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014
Ketika dikeluarkan Perppu itu sah, termasuk sah mencabut UU. Perppu jd invalid klo ditolak oleh DPR atau dibatalkan oleh MK. Sblm itu sah.
— Moh. Mahfud MD (@mohmahfudmd) 5 Oktober 2014